
Umar Syarif/Dok. Media Indonesia
Pengantar Redaksi
Insya Allah, semua saya jalani dengan keikhlasan hati dan pengabdian. Saya hanya ingin berbuat terbaik untuk bangsa, tidak memikirkan imbal baliknya.
Karate bukan hal baru bagi Umar Syarief. Sejak masih duduk di sekolah menengah pertama, dia telah masuk dalam jajaran elite nasional. Dia memang total menjalani kehidupannya sebagai seorang karateka.
Dia mengikuti berbagai kejuaraan di Eropa sendirian. Dia datang sendiri, dan ketika menang, karateka yang berdomisili di St Gallen, Swiss, itu mengibarkan bendera Merah Putih sendiri.
Tanpa gembar-gembor, suami Ai Lee Syarief, karateka asal Malaysia, itu melakukan segalanya tanpa pamrih, tanpa perlu menadahkan tangan ataupun pemberian.
”Saya menjalaninya dengan ikhlas, dan semua hanya untuk bangsa dan negara,” ujarnya.
Bagaimana persiapan SEA Games nanti? Apakah pesertanya akan sama seperti di Indonesia Open?
(Zudjudi, xxxx@gmail.com)
Insya Allah akan lebih baik lagi dari sebelumnya. Pesertanya mungkin lebih baik di SEA Games nanti karena banyak peserta yang enggak main di Indonesia Open kemarin.
Siapakah karateka favorit Anda? Apa kelemahan dan kelebihan sistem
organisasi karate di Indonesia?
(Prasetya Dewi, Jakarta)
Karateka favorit saya, Alex Biamonti. Hal yang harus diperhatikan adalah masalah pembinaan. Ini harus berjenjang dan berkesinambungan, harus ada tim yang berlapis-lapis.
Misalnya, harus ada tim elite, di bawahnya ada tim yunior di bawah 21, dan seterusnya. Tim elite dan yunior yang berkualitas itu sama-sama diterjunkan dalam kompetisi terbuka. Dengan sistem seperti ini, saya yakin regenerasi akan berjalan dan tidak putus.
Siapa yang menginspirasi Anda menjadi karateka andal?
(Titik Riana, xxxx@yahoo.com)
Orangtua saya. Tanpa mereka, saya tidak akan menjadi seperti saat ini. Mereka sangat berjasa buat karier saya, terutama Abah. Saya ingin menjadi karateka yang hebat karena ingin membuat mereka (orangtua) bahagia.
Saya tak ingin bertanya, hanya mengungkapkan kekaguman atas tingginya nasionalisme Anda, Saya sangat berharap hal ini dapat menginspirasi para politikus agar lebih mengutamakan kepentingan bangsa.
(Rizki Kristianto Basuki, Tanah Abang, Jakarta)
Saya melakukan semua ini dengan keikhlasan dan pengabdian. Saya hanya ingin berbuat yang terbaik buat bangsa. Kalau semua dijalani dengan ikhlas dan untuk pengabdian, insya Allah perjalanannya akan selalu diridai Allah SWT.
Mengapa Anda memilih karate? Kenapa tidak silat yang memang asli dari Indonesia?
(Ikhsan, Samarinda, Kalimantan Timur)
Karate berbeda dengan bela diri lain. Dalam karate, kita harus saling respek dan hormat kepada yunior ataupun senior. Di sini, saya belajar saling menghormati sesama karateka.
Akhirnya, hal itu tertanam kepada diri saya untuk saling menghormati dan berjiwa bushido. Karate ni sente nashi. There is no first attact in karate. Dampaknya juga nyata dalam kehidupan kita.
Sebagai atlet profesional, bagaimana cara Anda melawan rasa takut, gugup,atau bayangan kegagalan sebelum bertanding?
(Wahyu Nugroho, Serang, Banten)
Semua orang pasti punya rasa takut sebelum bertanding. Tetapi, saya berprinsip, saya selalu percaya diri dan percaya Tuhan. Saat berhadapan dengan lawan, saya selalu bertekad bahwa hanya hati saya yang bisa membuat saya juara. Saya harus selalu percaya dengan kemampuan saya. Di situ, rasa takut saya akan hilang.
Selamat kepada Umar Syarief yang telah menyabet medali emas pada European Masters. Mengapa masih tinggal di Swiss, di negeri orang, jika memang mencintai negeri sendiri?
(Rusli Salim, Jakarta)
Di Eropa-lah karier saya bersinar. Di sini, saya harus selalu disiplin dan profesional dengan sendirinya, tanpa disuruh. Setelah tinggal di Eropa, saya terpacu untuk membuktikan bahwa Indonesia itu hebat. Tinggal di Eropa sangat bermanfaat buat karier saya karena kualitas kompetisinya sangat padat.
Saya dikenal di Eropa karena di setiap turnamen pasti ada saya. Saya mendapat pengalaman berharga di sini, terutama ilmu dan pengalaman untuk menjadi atlet profesional. Suatu saat, pengalaman itu akan saya turunkan kepada para yunior di Indonesia.
Apa kunci sukses dan tips untuk membangkitkan semangat Anda?
(Doni Prajudi, Cilandak Barat, Jakarta Selatan)
Intinya adalah keikhlasan dan pengabdian untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa. Jika semua dijalani dengan ikhlas, insya Allah perjalanan kita pun akan selalu diridai Allah SWT. Semua saya anggap sebagai bagian dari ibadah.
Apa lagi yang Anda banggakan dari Indonesia yang mungkin sudah ”melupakan” Anda, sehingga Anda masih membawa nama bangsa ini di kancah karate internasional?
(Abdur Rohman Hamzah, Probolinggo, Jawa Timur)
Intinya, saya hanya ingin berbuat yang terbaik buat bangsa saya. Semua saya jalani dengan rasa ikhlas dan hanya pengabdian tanpa selalu mengharapkan sesuatu.
Pada tahun 2008, saya ditawari untuk membela Swiss, tetapi saya tolak karena cinta saya hanya kepada negara saya. Saya hanya ingin mengabdi buat bangsa saya. Itu menjadi kebanggaan tersendiri buat diri saya.
Bung Umar, telah Anda buktikan bahwa talenta-talenta muda negeri ini sangat mampu bersaing di kancah internasional. Sangat mungkin bermunculan ”Umar Syarief ” yang lain. Namun, ada hal-hal dalam pembinaan karate di negeri ini yang membuat potensi mereka tertahan. Bagaimana sikap Anda?
(Farisa, Kuningan, Jawa Barat)
Menurut saya, yang harus dilakukan adalah pembinaan yang berkesinambungan. Jika demikian, saya yakin mereka akan selalu ”berbicara” di tingkat internasional. Sistem di Eropa adalah pembinaan yang berkesinambungan. Sampai kapan Bang Umar akan mengikuti kejuaraan karate? Apakah ada perhatian khusus dari Pemerintah Indonesia setelah menjuarai European Masters?
(Arie, Cirebon)
Insya Allah, semua saya jalani dengan keikhlasan hati dan pengabdian. Saya hanya ingin berbuat terbaik untuk bangsa, tidak memikirkan imbal baliknya. Pernah tahun 2005 ada perhatian dari KONI. Itu sangat luar biasa buat saya. Tetapi, intinya, saya hanya ingin mengabdi buat bangsa, orangtua saya, serta Forki (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia).
Bagaimana pendapat Anda tentang perkembangan karate pelajar Indonesia? Apakah sudah maksimal?
(Armania Krisnamurti, xxxx@yahoo.co.id)
Perkembangan karate pelajar sangat luar biasa. Sekarang perhatian orang buat olahraga ini mulai bagus. Bagaimana rasanya berjuang untuk negara yang kita tahu persis tidak peduli dengan kita?
(Renata Catur Y, Pondok Kelapa, Jakarta)
Saya berjuang buat diri saya sendiri. Saya hanya ingin mengabdi buat bangsa di bidang saya. Itu suatu kebahagiaan tersendiri buat saya. Kalau saya memikirkan sesuatu yang lain, saya tidak akan pernah fokus dan sukses.
Dari perguruan karate manakah Anda? Apa yang bisa membuat Anda menjadi juara pada setiap kejuaraan?
(Reza Kurnia, xxxx@gmail.com)
Saya dari perguruan Inkanas. Pengabdian dan ketulusan yang membuat saya selalu bisa berbuat yang terbaik buat bangsa. Selain itu, tentu diimbangi juga dengan latihan keras dan disiplin.
Bang Syarief, kan, jago banget haray-nya. Cara melatihnya bagaimana, sih? Apa kiat berlatih bagi seorang karateka, khususnya kelas kumite, apakah cukup dengan fisik dan teknik?
(Saputra Jaelani, xxxx@yahoo.co.id)
Dalam martial arts, yang paling utama adalah 50 persen mental dan 50 persen teknik. Kalau kamu punya dua hal tersebut, kamu akan menguasai semuanya.
Setelah di Swiss, apa yang Abang lihat tentang Indonesia, juga tentang pembinaan karate? Apa yang perlu diperbaiki?
(Sukarni, Yogyakarta)
Setelah tinggal di Eropa, saya melihat sistem pembinaannya berbeda dengan konsep latihannya. Hal yang perlu diperhatikan adalah pembinaannya yang berkesinambungan. Di sini, mereka berjenjang dan mempunyai tim yang berlapis. Misalnya, pada tim elite ada tim yunior A dan B, lalu ada pula tim kadet A dan B.
Mereka selalu menerjunkan tim elite dan yunior ke kompetisi-kompetisi. Makanya, kualitas atlet di sini, senior dan yunior, sama, dan regenerasinya selalu tidak putus.
Apa yang paling menarik dari seni bela diri karate? Bagaimana tanggapan Anda tentang sosok Zabiollah Poorshab (karateka Iran) saat Anda berhadapan dengannya di Asian Games XVI/2010?
(Lamhot Hutabarat, Medan)
Karate adalah olahraga yang fantastis karena di karate kita harus saling menghormati sesama, baik yunior maupun senior.
Sabiollah adalah pemain bagus dan dia sudah mempelajari saya. Waktu kami bertemu di Asian Championship 2009, saya sempat unggul poin dan sisa waktu tinggal 4 detik. Namun, saya terkena diskualifikasi. Wasit langsung memenangkan Sabiollah.
Dari situ, Sabiollah selalu mempelajari kelemahan saya, Akhirnya, saat bertemu dalam final, dia sudah ”membaca” saya. Saya mengakui, dia pemain bagus dan sangat menghargai lawan. Kita berteman baik sampai sekarang.
Apa harapan terbesar yang mungkin bisa Anda capai sebagai atlet? Dukungan dalam bentuk apa yang sangat Anda inginkan agar dapat berprestasi?
(Rindu Rumapea, Medan)
Selama ini, perhatian pemerintah atau KONI ke daerah-daerah lain sangat bagus, menghargai perjuangan dan jerih payah anak bangsa. Mungkin semua atlet menginginkan penghargaan setelah mereka sudah tak lagi menjadi atlet. Tetap ada tunjangan hidup bagi mereka. Saya yakin penghargaan seperti ini yang diinginkan semua atlet.
Penghargaan seperti itu yang belum ada selama ini. Kalau ada penghargaan seperti itu, saya yakin olahraga kita akan lebih maju. Akan banyak bermunculan juara dunia baru.
Mas Umar, dengan banyaknya prestasi yang telah diraih di bidang karate, saya yakin Mas Umar mempunyai semacam formula atau rahasia di balik kesuksesan itu. Bolehkah dibagi?
(Zainudin, Pondok Sawah Indah, Ciputat, Tangerang)
Insya Allah semua yang saya dapat di Eropa dan pengalaman saya selama ini akan saya turunkan kepada para yunior saya. Prinsip saya adalah mencari ilmu untuk diamalkan. Resepnya, saya ikhlas menjalani semuanya, dan pengabdian yang ditunjang dengan latihan keras dan disiplin.