SEORANG pria berbadan kekar datang menemui seorang guru beladiri untuk meminta ilmu darinya. “Aku datang ingin berguru padamu, Sensei,” ujarnya mengawali perbincangan. “Izinkan aku menjadi muridmu.”
“Apa yang kau harapkan dariku?” tanya lelaki tua itu.
“Ya, tentu saja ilmumu.” jawabnya. “Sudah banyak guru yang aku datangi dan sudah banyak juga ilmu yang aku dapatkan. Satu tahun aku belajar ilmu kanuragan, tiga tahun aku mempelajari tendangan maut dan separuh usiaku telah aku habiskan dengan menguasai tangkisan seribu bayangan,” ujar si pria tadi dengan sedikit pongah.
Si guru hanya tersenyum. “Baiklah, jika engkau mau berlatih dariku, besok datanglah ke dojoku,” kata sang guru sambil berlalu.
Pagi menjelang, lelaki itu mengawali latihannya dengan penuh semangat. Setiap kali sang guru memberinya arahan, tapi setiap kali itu pula lelaki itu mendebatnya. “Tidak…tidak seperti itu guru. Rasanya aku punya jurus kuncian yang bisa juga melumpuhkan jurus yang engkau berikan itu,” bantah dia.
Tak banyak ucapan yang dilontarkan sang guru, ia hanya meminta agar murid barunya itu menyudahi latihannya dan melanjutkan keesokan harinya.
Hari berganti, berkali-kali pula lelaki itu mendebat segala jurus yang diberikan sang guru. Hingga pada akhirnya, kesabaran si guru pun habis. “Baiklah ikuti saya,” pintanya sembari mengajak lelaki itu duduk di sebuah kursi bambu.
Tak ada kata yang terlontar dari mulut sang guru. Ia kemudian mengambil teko tembikar dan menuangkan airnya ke dalam gelas. Terus…terus… hingga airnya meluber. Tapi, ia tetap saja bergeming.
“Kenapa kau lakukan itu, guru! Bukankah airnya sudah penuh?” celetuk si murid tangkas.
Sejenak terdiam. Sebuah kalimat keras terdengar dari mulutnya. “Inilah dirimu, Nak!”
“Lah, apa hubungannya dengan aku?” tanya lelaki itu keheranan.
“Gelas yang penuh itu seperti dirimu. Airnya akan terus tumpah jika kau tak mau mengosongkan terlebih dahulu. Simpan gelas penuh itu, lalu ambillah gelas yang kosong agar aku bisa menuangkan air ke dalam gelas itu, sehingga airnya tidak luber seperti gelas yang satu ini,” kata si guru penuh filosofi.
“Maksudnya? Sungguh aku tak mengerti.”
“Simpan dahulu ilmu yang telah kau miliki. Kosongkan jiwa dan pikiran agar engkau bisa menerima ilmu itu dengan pikiran dan jiwa yang bening.” “Apa engkau sudah mengerti apa yang aku maksud?” tanyanya.
Tak ada jawaban. Lelaki itu hanya bisa tertunduk dan menyadari kesalahannya. (Eko Hendrawan)