Archive for June, 2008

Bertemu Si Anak Hilang

Posted in SISI LAIN with tags on June 24, 2008 by kushinryu

SENANG, bahagia dan haru. Perasaan itulah yang muncul di hati Sensesi Sofyan ketika bertemu Sawanori, si anak hilang, pada Jumat pekan lalu. Sudah hampir enam bulan, satu-satunya anak lelaki Soke Matsuzaki itu, menetap di Bandung untuk keperluan sekolah. Namun, selama itu pula, tak pernah ada kabar berita soal kedatangannya ke Bandung. Kabar tentang dirinya terdengar samar-samar.

Konon, ada pihak-pihak yang memang tak senang jika mantan juara lima kali berturut-turut asal Jepang itu, bertemu dengan Si Om –begitu Sawanori- menyebut Sensei Sofyan. Entah apa alasannya, namun hal itu memang sempat membuat Si Om bersedih. Maklumlah, bagi Si Om, Sawanori tak ubahnya anak sendiri.

Usaha untuk mencari informasi tentang keberadaan Sawanori pernah dilakukan, namun tak banyak info yang didapat. Sempat terlupakan, namun kerinduan untuk bertemu dengan si anak hilang makin menjadi belakangan ini di hati si Om.

Pekan lalu, lewat seorang teman, si Om pun mencoba memberi sebuah compact disc (CD) berisi kegiatan yang kini tengah dilakukannya. “Buat anakku tersayang,” tulis Si Om di atas kertas, yang diselipkan di dalam CD.

Syukurlah, ucapan itu membuat si anak hilang terharu. Bahkan, ia nyaris meneteskan air mata setelah membaca tulisan si Om. “Saya harus ketemu Si Om. Harus…Harus! ujar Sawanori ditirukan seorang teman.

Takdir memang telah ditentukanNYA. Jumat pekan lalu, si anak hilang muncul di hadapan Si Om. Bak seorang anak yang lama tak bertemu ayahnya, Si anak hilang memeluk erat si Om dengan penuh haru…

Sang Juara

Posted in SISI LAIN with tags on June 20, 2008 by kushinryu

Suatu ketika ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu karena ini adalah babak final. Hanya tersisa empat orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri sebab memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak yang bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam empat anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tidak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah memang mobil itu tidak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun Mark bangga dengan semua itu karena mobil itu adalah buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan, final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan telah siap empat mobil dengan empat “pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan empat jalur terpisah di antaranya.

Namun sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam dengan tangan yang tertangkup memanjatkan doa. Lalu semenit kemudian ia berkata, “Ya, aku siap!”

Dor! Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itupun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo… ayo… cepat… cepat… maju… maju..,” begitu teriak mereka. Ahha… sang pemenang harus ditentukan. Tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap dan berkomat-kamit lagi dalam hati, “Terima kasih.”

Saat pembagian piala tiba, Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya, “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?” Mark terdiam. “Bukan Pak, bukan itu yang aku panjatkan,” kata Mark.

Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya tak adil meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. Aku hanya memohon pada Tuhan supaya aku tak menangis jika aku kalah.” Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark tidak memohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark tak memohon pada Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang dan menyakiti yang lainnya. Namun Mark memohon pada Tuhan agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa agar diberikan kemuliaan dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan agar mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal bukankah yang kita butuhkan adalah bimbingan, tuntunan, dan panduan-Nya?

Kita sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Tuhan memberikan kita ujian yang berat bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah, namun agar setiap kita menjadi kuat dan semakin mengandalkan-NYA.