Archive for beladiri

WORKSHOP BELADIRI PRAKTIS BERSAMA WSDK @ Kejagung

Posted in SISI LAIN with tags , , , , , , , , , , , on 31/01/2013 by KUSHINRYU

Kesadaran akan pentingnya perempuan mengetahui dan memahami konsep perlindungan diri secara praktis sudah menjadi kebutuhan. Beladiri harus menjadi bagian dari gaya hidup dan rutinitas dalam menjalankan aktivitas.

Ubah mindset Anda. Ya, beladiri bukanlah sesuatu yg sulit, tapi sebaliknya belajar beladiri bisa dilakukan dengan mudah, praktis, dan juga menyenangkan. Jangan bayangkan gerakan yang sulit dilakukan, selama kita mau mulai melatih diri, tak ada istilah sulit.

Ingat kejahatan mengintai kita, di mana pun dan kapan pun Anda berada. Sejatinya, sudah saatnya perempuan mau mengasah diri guna mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Pepatah mengingatkan kita, “Sedia Payung Sebelum Hujan”. Jangan

menunda, saatnya Anda mendorong diri Anda untuk peduli dengan keselamatan diri. Lakukan sekarang juga, jangan menanti Anda menjadi korban terlebih dahulu.

Ayo dorong diri Anda, putri Anda, orangtua, adik, kakak perempuan untuk mengasah kemampuan membentengi diri.

Call Us: WSDK
RATU CELIA (0818091992271 – 081313408099)
http://www.wsdk.org

Pelatihan beladiri praktis WSDK bersama ibu-ibu dharmawanita Jamintel Kejagung

Pelatihan beladiri praktis WSDK bersama ibu-ibu dharmawanita Jamintel Kejagung

DSC_0659

Dua mantan atlet nasional jebolan Piala Rudini (sekarang Piala Mendagri), Rudi Faisal (Juara I Piala Rudini 1993) dan Eko Hendrawan (Juara Best of The Best Piala Rudini 1994), kini lebih getol berbagi ilmu memperkenalkan konsep beladiri praktis di kalangan perempuan lewat program WSDK.

Ibu-ibu Dharmawanita Jamintel, Kejagung, Tampak antusias berlatih teknik dasar WSDK

Bu Jamintel, Ny Adjat Sudrajat, (kedua dari kiri), tampak antusias mengikuti workshop wsdk

Suasana hangat, santai dan penuh kecerian mewarnai workshop singkat beladiri praktis khusus perempuan

Bu Jamintel, Ny Adjat Sudrajat, (kedua dari kiri), tampak antusias mengikuti workshop wsdk

Ibu-ibu ini tampak antusias mengikuti workshop wsdk

Melatih tendangan

Dan mereka berdua pun harus rela jadi korban ‘keganasan’ ibu-ibu peserta workshop

Dua mantan atlet nasional jebolan Piala Rudini (sekarang Piala Mendagri), Rudi Faisal (Juara I Piala Rudini 1993) dan Eko Hendrawan (Juara Best of The Best Piala Rudini 1994), kini lebih getol berbagi ilmu memperkenalkan konsep beladiri praktis di kalangan perempuan lewat program WSDK.

Dua mantan atlet nasional jebolan Piala Rudini (sekarang Piala Mendagri), Rudi Faisal (Juara I Piala Rudini 1993) dan Eko Hendrawan (Juara Best of The Best Piala Rudini 1994), kini lebih getol berbagi ilmu memperkenalkan konsep beladiri praktis di kalangan perempuan lewat program WSDK.

Botol air mineral pun bisa digunakan sebagai alat bantu pertahanan diri

@kompasTV meliput acara Pelatihan wsdk @kejagung

Presenter Kompas TV pun tak mau ketinggalan berlatih. Ciaaat

Bu Jamintel Kejagung sedang di wawancarai Kompas TV

Berpose bersama usai berlatih

Liputan wsdk di Redaksi Siang Trans 7

Posted in SISI LAIN with tags , , , , , , , , , , on 06/12/2012 by KUSHINRYU

Sudah saatnya perempuan punya konsep pertahanan diri dalam menghadapi kondisi lingkungan yang masih belum berpihak kepadanya. Ayo bangunkan energi semangat dan kemandirian Anda. Jangan nunggu sampai menjadi korban. Berikut tayangan tim Redaksi Siang Trans 7 di WSDK Center, Bandung, Jawa Barat. Klik link di bawah ini:


Beladiri Praktis Khusus Perempuan

LOGO FINALE

Apa Gunanya Olahraga bagi Kita?

Posted in Uncategorized with tags , , on 20/09/2012 by KUSHINRYU

Oleh Yunas Santhani Azis

Sekitar 7.000 atlet yang berlaga di Pekan Olahraga Nasional Riau 2012 akan mengenang aksi mereka di gelanggang itu sepanjang hayat mereka. Sebagian dari mereka akan benar-benar menjadikan ajang olahraga prestasi itu sebagai satu momen megah dalam hidup.

Kemudian, sebelum predikat olahragawan nasional tergapai, mereka akan menggantung raket, menyimpan sepatu kets, menyisihkan bola mereka. Alasan umum yang sangat manusiawi adalah tak ada masa depan bagi atlet prestasi di negeri ini. Mereka akan mengikuti arus besar kehidupan, bersekolah, mencari kerja, menjadi karyawan.

Berbeda dari kelompok itu, puluhan persen dari alumni Riau 2012 akan terus menjalani kehidupan spartan sebagai atlet. Mengejar prestasi terbaik di kancah lebih tinggi. Terkadang berhasil, adakalanya gagal.

Semua berakhir hingga pada suatu ketika mereka tersadar, tangan tak lagi mampu memukul cukup kuat, kaki tak lagi bisa mengayun cukup cepat. Banyak yang harus lama terlunta-lunta. Banyak pula yang sukses meniti karier dan mencari nafkah dengan berusaha.

Namun, semua diawali dengan cerita yang sama, cerita yang pernah dituturkan mantan juara dunia bulu tangkis, Hariyanto Arbi dan Hendrawan. Malam telah larut, malam pertama dengan status yang baru, mantan atlet.

Di tengah tidur yang gelisah, mereka terbangun tiba-tiba. Dalam duduk terpekur di atas kasur, keringat membasahi dahi. Jantung berdegup cepat. Tak ada yang salah dengan kamar tidur di rumah Hendrawan atau Hariyanto.

Kamar mereka berpendingin suhu ruangan. Kerjanya baik. Angin berembus sejuk. ”Benar-benar blank (kosong). Saya tidak tahu harus berbuat apa besok.” Begitu kekhawatiran Hariyanto tentang hari-harinya ke depan dalam sebuah perbincangan dua tahun silam.

Latihan dan pertandingan memang tak mengajarkan atlet tentang bisnis, tentang ilmu manajemen, tentang banyak hal. Akhirnya, toh, Hariyanto, Yayuk Basuki, dan banyak mantan atlet lainnya bisa lebih dari menyintas di kehidupan normal. Hariyanto, misalnya, kini menjadi pengusaha yang memproduksi peralatan olahraga, seperti sepatu, kaus, dan raket.

Modal utama mereka bukan uang, melainkan karakter yang mengental, warisan yang dibawa dari pemusatan latihan nasional. Mantan atlet seperti Hariyanto itu tertempa untuk tidak pernah menyerah, tidak pernah berhenti berusaha hingga menjadi juara, mampu bekerja dalam waktu yang lama tanpa kenal lelah, terbiasa bangkit dari kegagalan, dan punya komitmen yang bulat terhadap cita-cita.

Dalam berbagai kadarnya, semua dari 7.000 atlet yang berlaga di Riau 2012 memilikinya. Semua, tak peduli apakah mereka akan pensiun dalam beberapa bulan ke depan atau 10 tahun mendatang.

Namun, olahraga bukan hanya untuk 7.000 orang yang berlaga di 24 arena di Riau. Olahraga adalah untuk sebuah bangsa, harus juga bermanfaat bagi sekitar 240 juta manusia yang ada di negara kita.

Saat menuliskan kalimat di atas, kembali teringat apa yang disampaikan pengajar ilmu keolahragaan di Universitas Negeri Jakarta, Syarifudin, dalam sebuah perbincangan sekitar delapan tahun lalu.

Saat itu dia menggugat, begitu besar dana dialokasikan, ratusan miliar rupiah dalam setahun bagi ribuan atlet prestasi. Sebaliknya, hanya secuil anggaran yang diperuntukkan bagi keolahragaan masyarakat, yang jumlahnya ratusan juta kepala.

Gugatan itu tentu bukanlah untuk membenturkan mana yang lebih penting, mana yang lebih utama. Kerisauan itu mungkin bisa lebih konkret jika mengacu pada gambaran SEA Games 2011.

Untuk menggelarnya, pemerintah merogoh kocek sekitar Rp 2 triliun. Sekitar 870 atlet ”Merah Putih” membawa Indonesia menjadi juara. Lalu, ratusan juta penduduk negeri ini bersorak begitu bangga. Sehari, sepekan, setelah itu semuanya hilang di tengah gelapnya malam.

Yang kemudian terjadi, kita kembali tenggelam dalam gelombang kehidupan. Korupsi tak pernah hilang dari berita. Uang negara sudah pasti lenyap menyisakan kerugian tak berujung pangkal. Namun, sudah menjadi makanan sehari-hari pula, banyak yang disidik, banyak yang jadi tersangka, sangat sedikit yang tervonis sebagai koruptor.

Kekerasan tetap menjadi warna kehidupan harian. Tawuran antarkelompok, kelompok yang satu mengintimidasi dan menganiaya yang lain. Di jalanan, peraturan tak lagi diindahkan.

Di mana sisa dana olahraga yang Rp 2 triliun untuk bangsa kita? Tak ada jejak dari esensi olahraga bagi kita. Esensi yang berupa karakter yang dijiwai prinsip sportmanship: menghargai sesama, taat pada peraturan, kejujuran, dan tanggung jawab yang keluar dari nurani.

Mari kita ulangi berita yang membosankan sebagai contoh yang lain. Pemerintah berjuang agar SEA Games 2011 dan PON Riau 2012 tetap bisa digelar meski harus melanggar peraturan negara ini. Sudah jelas, penggunaan dana untuk pembelian barang atau penggunaan jasa yang melebihi Rp 50 juta haruslah lewat mekanisme lelang.

Namun, karena waktu telah mepet, dibuatlah revisi agar tak perlu lelang. Cukup penunjukan langsung meski dana yang keluar puluhan miliar rupiah. Ajang olahraga, yang seharusnya dibangun atas prinsip ketaatan pada aturan, diusung lewat cara yang melanggar peraturan. Kita menolak mengakui kekalahan dan dengan berbagai cara berjuang untuk tetap menggapai kemenangan.

Jadi, Bapak Presiden serta Menteri Pemuda dan Olahraga, untuk apa olahraga sebenarnya bagi kita? Kepada 7.000 atlet, beribu maaf, nilai yang hendak kalian tebarkan belum merasuk ke jiwa bangsa.

Jangan Sampai Anda Jadi Korban seperti Ini

Posted in Uncategorized with tags , , , , , , , , , on 30/07/2012 by KUSHINRYU

Aksi kejahatan masih mendominasi. Korbannya, siapa lagi kalau bukan perempuan.  Tak ada ruang bagi mereka untuk sembunyi. Setiap jengkal, kekerasan dan aksi kejahatan selalu mengintai mereka di mana pun berada. Saatnya, perempuan bergerak. Membentengi diri menjadi salah satu cara nyata. Jika bukan Anda, siapa lagi yang akan peduli.

Jangan sampai Anda seperti ini Klik di SINI

UNDANGAN TERBUKA GASSHUKU ANGGOTA KUSHIN RYU

Posted in JUJITSU with tags , , , , on 27/02/2012 by KUSHINRYU

PROPOSAL UNDANGAN
Nomor : 026/GK-KP/01/2012
Lampiran: -
Perihal : Undangan Gasshuku

Kepada:
Yth. KETUA DOJO KUSHIN RYU
Di Tempat

Dengan Hormat
Osu…

Dasar :
1. Hasil pertemuan anggota sabuk hitam Cabang Kopo tanggal 28 Januari
2012 di Dojo Kopo.
2. Program Kerja Cabang Kopo tahun 2012-2015
3. Pembinaan berjenjang dan berkesinambungan guru/pelatih dan asisten
pelatih sebagai generasi penerus beladiri aliran Kushin Ryu.
4. Peningkatan kualitas guru/pelatih dan asisten dalam memahami Kushin Ryu
sebagai aliran beladiri.

Atas dasar tersebut, dengan ini kami Pembina Kushin Ryu Dojo Kopo mengundang seluruh Dojo di manapun berada dalam pelaksanaan kegiatan Gasshuku (bersama-sama di tempat latihan) yang akan dilaksanakan pada :

Hari/tanggal : Jumat, Sabtu & Minggu, 6,7,8 April 2012
Waktu : Jadwal Terlampir
Tempat : Padepokan Karang Tumaritis Jl. Kolonel Masturi No. 21-
Citespong – Lembang
Kegiatan : A Silaturahmi antar sesama anggota Kushin Ryu binaan Dojo Kopo
dan Daerah.
B. Pelatihan dan Pemantapan Teknik Beladiri Kushin Ryu Karate Do
dan KJI, Pengenalan dan Pelatihan WSDK (Women Self Defense
of Kushin Ryu)
D. UJIAN DAN

Demikian undangan kami sampaikan. Atas perhatian dan kerjasamanya kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Panitia Gasshuku & Ujian DAN
Bandung, 30 Januari 2012

ttd

Panitia Pelaksana

Cat: Bagi yang berminat mengikuti kegiatan tersebut dan ingin mendapatkan informasi secara jelas/lengkap silakan hubungi kami melalui email zallu2004@gmail.com

Karena Wanita Butuh Pertahanan Diri

Posted in SISI LAIN with tags , , , , on 24/01/2012 by KUSHINRYU

Aksi pemerkosaan dan tindakan kejahatan terhadap perempuan makin mengkhawatirkan saja. Setiap hari selalu saja ada kabar yang tak enak terdengar di kuping, betapa perempuan kerap menjadi korban kekejaman manusia-manusia biadab. Saatnya bertindak. Bekali diri dengan kemampuan beladiri yang mumpuni. Bangkitkan gairah untuk mau belajar. Saatnya perempuan bergerak.

beladiri praktis khusus perempuan

Program latihan wsdk diliput kru antv

Perempuan-perempuan tangguh berlatih di Dojo Kopo Bandung


Note: Bila ingin mengetahui seperti apa teknik-teknik pertahanan diri bagi perempuan, silakan kunjungi TB Gramedia dan beli buku WSDK: Tubuhku, Senjataku. :-)

Umar Syarif: Saya Hanya Ingin yang Terbaik buat Bangsa

Posted in SISI LAIN, WARTA TATAMI with tags , , , on 12/07/2011 by KUSHINRYU

Umar Syarif/Dok. Media Indonesia

Pengantar Redaksi

Insya Allah, semua saya jalani dengan keikhlasan hati dan pengabdian. Saya hanya ingin berbuat terbaik untuk bangsa, tidak memikirkan imbal baliknya.

Karate bukan hal baru bagi Umar Syarief. Sejak masih duduk di sekolah menengah pertama, dia telah masuk dalam jajaran elite nasional. Dia memang total menjalani kehidupannya sebagai seorang karateka.

Dia mengikuti berbagai kejuaraan di Eropa sendirian. Dia datang sendiri, dan ketika menang, karateka yang berdomisili di St Gallen, Swiss, itu mengibarkan bendera Merah Putih sendiri.

Tanpa gembar-gembor, suami Ai Lee Syarief, karateka asal Malaysia, itu melakukan segalanya tanpa pamrih, tanpa perlu menadahkan tangan ataupun pemberian.

”Saya menjalaninya dengan ikhlas, dan semua hanya untuk bangsa dan negara,” ujarnya.

Bagaimana persiapan SEA Games nanti? Apakah pesertanya akan sama seperti di Indonesia Open?

(Zudjudi, xxxx@gmail.com)

Insya Allah akan lebih baik lagi dari sebelumnya. Pesertanya mungkin lebih baik di SEA Games nanti karena banyak peserta yang enggak main di Indonesia Open kemarin.

Siapakah karateka favorit Anda? Apa kelemahan dan kelebihan sistem
organisasi karate di Indonesia?

(Prasetya Dewi, Jakarta)

Karateka favorit saya, Alex Biamonti. Hal yang harus diperhatikan adalah masalah pembinaan. Ini harus berjenjang dan berkesinambungan, harus ada tim yang berlapis-lapis.

Misalnya, harus ada tim elite, di bawahnya ada tim yunior di bawah 21, dan seterusnya. Tim elite dan yunior yang berkualitas itu sama-sama diterjunkan dalam kompetisi terbuka. Dengan sistem seperti ini, saya yakin regenerasi akan berjalan dan tidak putus.

Siapa yang menginspirasi Anda menjadi karateka andal?

(Titik Riana, xxxx@yahoo.com)

Orangtua saya. Tanpa mereka, saya tidak akan menjadi seperti saat ini. Mereka sangat berjasa buat karier saya, terutama Abah. Saya ingin menjadi karateka yang hebat karena ingin membuat mereka (orangtua) bahagia.

Saya tak ingin bertanya, hanya mengungkapkan kekaguman atas tingginya nasionalisme Anda, Saya sangat berharap hal ini dapat menginspirasi para politikus agar lebih mengutamakan kepentingan bangsa.

(Rizki Kristianto Basuki, Tanah Abang, Jakarta)

Saya melakukan semua ini dengan keikhlasan dan pengabdian. Saya hanya ingin berbuat yang terbaik buat bangsa. Kalau semua dijalani dengan ikhlas dan untuk pengabdian, insya Allah perjalanannya akan selalu diridai Allah SWT.

Mengapa Anda memilih karate? Kenapa tidak silat yang memang asli dari Indonesia?

(Ikhsan, Samarinda, Kalimantan Timur)

Karate berbeda dengan bela diri lain. Dalam karate, kita harus saling respek dan hormat kepada yunior ataupun senior. Di sini, saya belajar saling menghormati sesama karateka.

Akhirnya, hal itu tertanam kepada diri saya untuk saling menghormati dan berjiwa bushido. Karate ni sente nashi. There is no first attact in karate. Dampaknya juga nyata dalam kehidupan kita.

Sebagai atlet profesional, bagaimana cara Anda melawan rasa takut, gugup,atau bayangan kegagalan sebelum bertanding?

(Wahyu Nugroho, Serang, Banten)

Semua orang pasti punya rasa takut sebelum bertanding. Tetapi, saya berprinsip, saya selalu percaya diri dan percaya Tuhan. Saat berhadapan dengan lawan, saya selalu bertekad bahwa hanya hati saya yang bisa membuat saya juara. Saya harus selalu percaya dengan kemampuan saya. Di situ, rasa takut saya akan hilang.

Selamat kepada Umar Syarief yang telah menyabet medali emas pada European Masters. Mengapa masih tinggal di Swiss, di negeri orang, jika memang mencintai negeri sendiri?

(Rusli Salim, Jakarta)

Di Eropa-lah karier saya bersinar. Di sini, saya harus selalu disiplin dan profesional dengan sendirinya, tanpa disuruh. Setelah tinggal di Eropa, saya terpacu untuk membuktikan bahwa Indonesia itu hebat. Tinggal di Eropa sangat bermanfaat buat karier saya karena kualitas kompetisinya sangat padat.

Saya dikenal di Eropa karena di setiap turnamen pasti ada saya. Saya mendapat pengalaman berharga di sini, terutama ilmu dan pengalaman untuk menjadi atlet profesional. Suatu saat, pengalaman itu akan saya turunkan kepada para yunior di Indonesia.

Apa kunci sukses dan tips untuk membangkitkan semangat Anda?

(Doni Prajudi, Cilandak Barat, Jakarta Selatan)

Intinya adalah keikhlasan dan pengabdian untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa. Jika semua dijalani dengan ikhlas, insya Allah perjalanan kita pun akan selalu diridai Allah SWT. Semua saya anggap sebagai bagian dari ibadah.

Apa lagi yang Anda banggakan dari Indonesia yang mungkin sudah ”melupakan” Anda, sehingga Anda masih membawa nama bangsa ini di kancah karate internasional?

(Abdur Rohman Hamzah, Probolinggo, Jawa Timur)

Intinya, saya hanya ingin berbuat yang terbaik buat bangsa saya. Semua saya jalani dengan rasa ikhlas dan hanya pengabdian tanpa selalu mengharapkan sesuatu.

Pada tahun 2008, saya ditawari untuk membela Swiss, tetapi saya tolak karena cinta saya hanya kepada negara saya. Saya hanya ingin mengabdi buat bangsa saya. Itu menjadi kebanggaan tersendiri buat diri saya.

Bung Umar, telah Anda buktikan bahwa talenta-talenta muda negeri ini sangat mampu bersaing di kancah internasional. Sangat mungkin bermunculan ”Umar Syarief ” yang lain. Namun, ada hal-hal dalam pembinaan karate di negeri ini yang membuat potensi mereka tertahan. Bagaimana sikap Anda?

(Farisa, Kuningan, Jawa Barat)

Menurut saya, yang harus dilakukan adalah pembinaan yang berkesinambungan. Jika demikian, saya yakin mereka akan selalu ”berbicara” di tingkat internasional. Sistem di Eropa adalah pembinaan yang berkesinambungan. Sampai kapan Bang Umar akan mengikuti kejuaraan karate? Apakah ada perhatian khusus dari Pemerintah Indonesia setelah menjuarai European Masters?

(Arie, Cirebon)

Insya Allah, semua saya jalani dengan keikhlasan hati dan pengabdian. Saya hanya ingin berbuat terbaik untuk bangsa, tidak memikirkan imbal baliknya. Pernah tahun 2005 ada perhatian dari KONI. Itu sangat luar biasa buat saya. Tetapi, intinya, saya hanya ingin mengabdi buat bangsa, orangtua saya, serta Forki (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia).

Bagaimana pendapat Anda tentang perkembangan karate pelajar Indonesia? Apakah sudah maksimal?

(Armania Krisnamurti, xxxx@yahoo.co.id)

Perkembangan karate pelajar sangat luar biasa. Sekarang perhatian orang buat olahraga ini mulai bagus. Bagaimana rasanya berjuang untuk negara yang kita tahu persis tidak peduli dengan kita?

(Renata Catur Y, Pondok Kelapa, Jakarta)

Saya berjuang buat diri saya sendiri. Saya hanya ingin mengabdi buat bangsa di bidang saya. Itu suatu kebahagiaan tersendiri buat saya. Kalau saya memikirkan sesuatu yang lain, saya tidak akan pernah fokus dan sukses.

Dari perguruan karate manakah Anda? Apa yang bisa membuat Anda menjadi juara pada setiap kejuaraan?

(Reza Kurnia, xxxx@gmail.com)

Saya dari perguruan Inkanas. Pengabdian dan ketulusan yang membuat saya selalu bisa berbuat yang terbaik buat bangsa. Selain itu, tentu diimbangi juga dengan latihan keras dan disiplin.

Bang Syarief, kan, jago banget haray-nya. Cara melatihnya bagaimana, sih? Apa kiat berlatih bagi seorang karateka, khususnya kelas kumite, apakah cukup dengan fisik dan teknik?

(Saputra Jaelani, xxxx@yahoo.co.id)

Dalam martial arts, yang paling utama adalah 50 persen mental dan 50 persen teknik. Kalau kamu punya dua hal tersebut, kamu akan menguasai semuanya.

Setelah di Swiss, apa yang Abang lihat tentang Indonesia, juga tentang pembinaan karate? Apa yang perlu diperbaiki?

(Sukarni, Yogyakarta)

Setelah tinggal di Eropa, saya melihat sistem pembinaannya berbeda dengan konsep latihannya. Hal yang perlu diperhatikan adalah pembinaannya yang berkesinambungan. Di sini, mereka berjenjang dan mempunyai tim yang berlapis. Misalnya, pada tim elite ada tim yunior A dan B, lalu ada pula tim kadet A dan B.

Mereka selalu menerjunkan tim elite dan yunior ke kompetisi-kompetisi. Makanya, kualitas atlet di sini, senior dan yunior, sama, dan regenerasinya selalu tidak putus.

Apa yang paling menarik dari seni bela diri karate? Bagaimana tanggapan Anda tentang sosok Zabiollah Poorshab (karateka Iran) saat Anda berhadapan dengannya di Asian Games XVI/2010?

(Lamhot Hutabarat, Medan)

Karate adalah olahraga yang fantastis karena di karate kita harus saling menghormati sesama, baik yunior maupun senior.
Sabiollah adalah pemain bagus dan dia sudah mempelajari saya. Waktu kami bertemu di Asian Championship 2009, saya sempat unggul poin dan sisa waktu tinggal 4 detik. Namun, saya terkena diskualifikasi. Wasit langsung memenangkan Sabiollah.

Dari situ, Sabiollah selalu mempelajari kelemahan saya, Akhirnya, saat bertemu dalam final, dia sudah ”membaca” saya. Saya mengakui, dia pemain bagus dan sangat menghargai lawan. Kita berteman baik sampai sekarang.

Apa harapan terbesar yang mungkin bisa Anda capai sebagai atlet? Dukungan dalam bentuk apa yang sangat Anda inginkan agar dapat berprestasi?

(Rindu Rumapea, Medan)

Selama ini, perhatian pemerintah atau KONI ke daerah-daerah lain sangat bagus, menghargai perjuangan dan jerih payah anak bangsa. Mungkin semua atlet menginginkan penghargaan setelah mereka sudah tak lagi menjadi atlet. Tetap ada tunjangan hidup bagi mereka. Saya yakin penghargaan seperti ini yang diinginkan semua atlet.

Penghargaan seperti itu yang belum ada selama ini. Kalau ada penghargaan seperti itu, saya yakin olahraga kita akan lebih maju. Akan banyak bermunculan juara dunia baru.

Mas Umar, dengan banyaknya prestasi yang telah diraih di bidang karate, saya yakin Mas Umar mempunyai semacam formula atau rahasia di balik kesuksesan itu. Bolehkah dibagi?

(Zainudin, Pondok Sawah Indah, Ciputat, Tangerang)

Insya Allah semua yang saya dapat di Eropa dan pengalaman saya selama ini akan saya turunkan kepada para yunior saya. Prinsip saya adalah mencari ilmu untuk diamalkan. Resepnya, saya ikhlas menjalani semuanya, dan pengabdian yang ditunjang dengan latihan keras dan disiplin.

OBITUARI Sensei E. Yogasrawara

Posted in Uncategorized with tags , , , on 08/07/2011 by KUSHINRYU

Senpai E. Yogaswara, kami menyebutnya senpai Endang “Geboy”. Ya, sosoknya yang besar membuat teman-teman di kampung kami menyebutnya demikian. Julukan itu juga berlaku di tempat latihan.

Kakek guru kami, shihan Ali Basyah, (pendiri KKI Kopo) kerap menyebutnya dengan julukan itu. Di tahun 60-an ketika Dojo KKI Kopo berdiri, sensei Endang ikut bergabung. Beliaulah yang ikut melakukan pembinaan terutama kalangan anak muda di kampung kami.

Sekitar 40 tahun, beliau berkecimpung di dunia perkaratean. Beliau adalah sosok yang berdedikasi. Loyalitasnya tak pernah diragukan. Di penghujung hayatnya atau tiga hari sebelum Allah SWT memanggilnya, beliau masih sempat berlatih bersama kami. Semangatnya begitu membara, padahal beliau divonis menderita penyakit jantung. Selama kami berlatih, rasanya beliau tak pernah absen.

“Walaupun saya sakit, saya terus berlatih. Saya ingin memotivasi buat yang muda agar rajin berlatih,” begitu kira-kira pesan terakhir yang beliau ucapkan saat menutup upacara latihan, sabtu (25/6) pekan lalu.

Selasa (28/6), sekitar pukul 19.00, kabar duka itu kami dengar. Sensei Endang dikabarkan wafat setelah sempat dilarikan kerumah sakit terdekat setelah terserang sesak napas saat hendak melangsungkan sholat magrib di masjid besar kampung kami.

Selama aktif d Dojo Kopo, beliau pernah melatih di Dojo PT Ficosyn, SDN Leuwi Anyar dan membantu pengembangan dojo-dojo binaan Kopo lainnya.

Bagi kami sensei Endang adalah sosok panutan. Semangatnya tak pernah redup. Ia adalah simbol kesetiaan, ketekunan juga semangat yang terus menyala-nyala. Selamat jalan guruku ke tempat yang kelak akan kami tuju jua.

Jasamu akan terukir dalam sanubari dan jejak langkah kami.

LIPUTAN BANDUNG TV UJIAN DAN & GASSHUKU KJI

Posted in JUJITSU, VIDEO with tags , , , , , , , on 13/06/2011 by KUSHINRYU

Kehadiran KJI makin mendapat apresiasi dari sejumlah kalangan. Ke depan KJI akan terus berkembang melalui pola pembinaan di lingkungan militer dan kampus. Dukungan datang dari pemerintah daerah, terutama Kadispora Jawa Barat. Seperti apa gambarannya silakan simak tayangan berita berikut ini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.